Kring…! Bel sekolah berbunyi tanda bahwa pelajaran
telah berakhir.
“Kamu mau bareng aku pulangnya?”
“Gak ah nanti aja aku pulang sendiri, soalnya masih
ada urusan mendadak El, besok aj ya dan jangan lupa nanti telephone aku ya”
“Oke”
Begitulah percakapan Asya anak perempuan tombay IPA
1 di sekolah Altavia dengan Samuel laki-laki yang banyak digemari oleh banyak
perempuan di SMA itu. Mereka adalah sepasang sahabat yang memang dari awal
mereka ketemu sudah klop dan menjadi akrab. Yap dan saatnya Asya bertemu dengan
Prisky anak IPS 5 di kantin karena tadi saat istirahat Prisky memintanya.
“Sya, aku gak tahu ini apaan. Tapi yang jelas aku
nemuin ini di perpus dan aku tertarik ngambil karena ada sepotong nama kamu di
situ.” Jelas Prisky dengan wajah bingung
“Hehehe kertas kok aneh gini, kamu yakin kalau ini
potongan nama aku bukan yang lain? Apa gak ada petunjuk yang lebih konkrit
lagi?” Tanya Asya meminta keterangan.
“Hehe memang gak ada sih tapi ya bawa aja lah dan
siapa tau ada yang gak beres sama kertas ini, masa di perpus ada sobekan
kertas? Kan aneh kalau dipikir-pikir”
“Iya sih, ya udahlah aku bawa aj dan nanti aku
tanya-tanya lagi sama orang lain ya , makasih dah perhatian sama aku. Aku duluan
ya udah sore kamu juga hati-hati di jalan ya..bye”
“Oke Sya sama-sama makasih juga.”
Sesampainya di rumah
Asya menaruh tasnya dan membersihkan diri kemudian makan bersama Mama Papanya.
Di benak Asya masih muncul pertanyaan besar yang mengganggu pikirannya.
“Asya, Mama nanti pergi
ya setelah makan sama Papa soalnya banyak banget yang harus Mama kerjain di
kantor dan harus lembur sampai nanti malam ya”
“Iya ma pa” sambil
membereskan piring yang ada
“Tok..tok..tok..tok..”
Mama berjalan membukakan pintu ruang tamu.
“Eh El masuk-masuk,
sebentar ya duduk dulu Asyanya masih bersihin meja makan.”
“Loh iya Tante gak
kenapa-kenapa El juga santai kok Tan”
“Iya El”
Sekilas lah percakapan
terjadi antara Mama Asya dengan Samuel yang baru saja datang pada siang itu. Dan
saat yang bersamaan Papa dan Mama Asya pergi meninggalkan Asya dengan Samuel
karena orangtua Asya juga sudah mempercayai Samuel sebagai kakak Asya.
“Okay by the way kamu
ngapin kesini El? Biasanya gak cuma masalah kecil aja kalau sampai ke rumah
nih.”
“Iya Sya penting
banget, aku butuh kamu buat bantuin aku kerjain PR nih, kamu udah kan pasti
karena kamu juara II kemarin hehehe ciee ya ya aku butuh nih Sya.”
“Iya deh mumpung aku
lagi baik dan mau tanya-tanya ke kamu juga, kita kerjainnya di sini aja ya soalnya
gak ada tempat yang nyaman lagi selain ruang tamu. Oh ya aku ambil buku ku dan
keperluan yang mau aku tanyain ke kamu tadi. Sebentar.”
“Iya iya ngomong apa
nge reff sih sampai banyak gitu, santai aja ya” Dan beberapa saat kemudian
“El kamu tau ini gak,
mungkin kamu pernah liat yang punya kertas gini, karena aku penasaran nih karena misterius banget masa ini di
temuin di perpus kata Prisky tadi.”
“E..E..Aku gatau Sya
hmm munhkin ada yang mau kerjain kamu dan waktu pengen ngasih surat ini dia
rebutan sama temennya dan sobek deh.” Dengan muka Samuel yang berubah seketika.
“Hmm ya dah deh tapi
muka kamu jadi gugup gitu lihat kertas ini..ah perasaan aku aja kali hehe. Gak
usah di bahas deh El, okay kita kerjain bersama PRnya.”
Dan merekapun
mengerjakannya dengan serius ya walau ada juga saat mereka bercanda dan tertawa
karena tipe dan sikap Samuel memang humoris. Tetapi keadaan dan suanapun
menjadi berubah setelah..
“Tok tok tok tok” Asya
berjalan dan membukakan pintunya.
“Hei Raven gimana kabarnya
dah lama gak ketemu sejak kamu ke Jakarta”
“Baik kok Sya , eh El
heii gimana kabar kamu bray?”
“Baik-baik kok, oh iya
Sya aku pulang dulu ya soalnya Mama SMS aku tadi suruh cepet pulang sore ini ya
dan makasih banyak.” Sambil cepat-cepatlah Samuel keluar dari rumah Asya.
“Oke El sama-sama kamu
hati-hati di jalan ya”
Begitulah yang terjadi
setelah adanya Raven anak SMA Altavia yang pindah ke Jakarta dan di duga pernah
bertengkar dengan Samuel karena masalah yang sedikit serius. Dengan senang hati
Asya menyambut Raven karena Raven adalah kakak pertama Asya sebelum Samuel
mengenal Asya.
“Hei Sya aku mau bilang
sama kamu, kamu beneran percaya sama Samuel kamu belum di kasih tau sama Feri
kalau Samuel jelek-jelekin kamu di diarynya? Kamu gatau kalau Feri mau bilangin
itu ke kamu?”
“Feri? Aku gak pernah
ketemu sama Feri tuh. El? Jelek-jelekin aku di diarynya? Aku memang gak pernah
di bolehin liat sama dia tapi aku yakin kok dia baik, ngapain dia bohongin aku
Ven?”
“Yahh Asya adekku kamu
itu masih belum tahu ya cowok jaman sekarang gimana? Kamu di PHPin adanya,
kelihatannnya dia sayang sama kamu tapi gak di belakangnya Sya. Aku punya
buktinya nih ada di HPku.”
Diberitahukannya lah
sebuah gambar bertuliskan “Asya kamu itu
memang gampang ya di bodohin cewek tomboy tapi gak bisa apa-apa dan gak tahu
malu, kamu itu pengecut mana ada tomboy masih sering nangis cuma gara-gara
masalah kecil doing ahh Asya..Asya kasihannya kamu ini semoga kamu bisa tahu
apa yang bakalan terjadi sama kamu.” Asya hanya bisa bengong dan tak percaya
akan hal itu. Sebelumnya Samuel tidak pernah sama sekali mengejek dan membuat
kata-kata yang seperti itu untuk Asya dan Asya berfikir apa itu yang membuat
Samuel gugup dan takut saat melihat potongan kertas itu.
“Sya udah-udah jangan
nangis, kan aku dah bilang dari dulu kalau Samuel itu gak baik orangnya selalu
pingin menyakiti hati orang, waktu dulu aja aku difitnah sama dia. Sekarang kan
kamu sama aku karena itu kamu tenang aja ya, aku bakalan jagain kamu Sya.”
“Aku gatau harus
ngomong apa lagi Ven, makasih ya dah mau jadi orang yang special di dalam hidup
aku dan sekrang aku sadar kalau El bener-bener jahat dan gak tulus. Aku gak
akan mau sama dia lagi, selama ini aku dah dia bohongin!”
“Sstt..Asya kamu tenang
ya, aku tahu itu sakit, Kamu istirahat ya sekarang aku harus balik dulu ke
rumah Tante karena mau ada acara keluarga nanti jam 7” sambil mengusap pipi
Asya
“Iya Ven makasih kamu
hati-hati ya di jalan.”
Berakhirlah kegembiraan
menjadi beralih kesedihan dan kepedihan di hati Asya karena orang yang dipercayainya
menghianati dirinya. Dan Samuel yang sudah sampai di rumahnya
“Aduh bisa mati aku
kalau Asya bisa tahu, apalagi ada Raven penghancur itu, ahh kalau Asya tahu
pasti dia marah..Feri ohh ya Feri aduh anak buahnya Raven bisa gawat gawat
gawat ini ahh. Pasti Asya marah karena aku bilang gitu ke dia Aduh”
Kegelisahan yang
menyelimuti hati Samuel membuat dirinya resah dan kawatir dengan segala yang
telah dia katakan di kertas itu. Dan telah sedihnya Asya akhirnya dia ingin
meninggalkan Samuel. Asyapun juga menulis SMS pada Samuel tentang apa yang ada
di isi hatinya. Marah kesal menangis dan sedih melengkapi hatinya. Dengan
tuduhan yang sudah di ajukan Raven smuanya sudah tertulis di HP Asya yang akan
di kirimkan pada Samuel.
“Loh Asya? Kok gini sih
wahh gak bener nih aku harus ke rumah Asya lagi.”
Tanpa menghiraukan
hujan yang turun tiba-tiba Samuel menaiki motornya dan melaju. Tak lama
kemudian Samuel tiba di halaman rumah Asya dan memang kamar Asya berada di
dekat halamnya rumahnya tetapi lantai dua. Dengan harapan yang dimilikinya,
Samuel memanggil manggil Asya dan berteriak,
“Asya..Asya! Dengerin
aku dulu bukan itu yang aku maksudin Sya”
“Ah ngapain kamu ke
sini, mau jelek-jelekin aku lagi? Kamu mau lihat aku lebih nangis daripada ini
lagi? Belum cukup dah buat aku menderita? Aku tahu apa isi kertas kamu itu dah cukup El, kamu dah hancurin aku.”
“Apa yang kamu tulis
tadi di SMS itu gak bener Sya aku gak pernah sedikitpun berkata kasar ke kamu
aku gak bakalan tega Sya aku juga punya bukti yang lebih actual dari yang di
buktiin Raven makanya aku kesini dan aku akan tetap di sini, berdiri di sini
sebelum kamu mau nengok aku dari jendela kamu. Aku gak peduli harus mati di
sini atau gimana yang jelas aku mau buktiin kalau aku gak pernah bohongin kamu dan
aku ngomong selalu benar ke kamu. Dari dulu aku memang udah kenal sama Raven
dan banyak banget maslahku sama dia tapi dia yang selalu cari masalah ke aku ,
dan aku juga selalu jadi sasaran dia. Sekarang kamu harus percaya sama
kata-kata orang yang pernah ngejek nama orangtua kamu, kamu gak salah Sya? Kamu
benar-benar percaya sama dia?Yakin kamu? Aku dah bilang ap yang harus aku
bilang k kamu dan sekali lagi aku gak peduli kalau aku mati di sini cuma karena
aku harus jujur ke kamu Sya.”
Asya hanya bisa melamun
dan terdiam, kemudian serasa ada yang memberitahu kalau Samuel itu benar. Tak
mungkin Samuel yang dikenalnya akan berbohong pada Asya. Akhirnya Asya berubah
pikiran dan ingin menengok Samuel di kacanya.
“El aku minta..El!”
Berlarilah Asya setelah
melihat El tergeletak tak berdaya di halaman rumah Asya.
“El bangun El plis El
aduh badannya panas banget”
Dengan usaha yang cukup
kuat Asya bisa memindahkan Samuel ke dalam rumahnya. Dengan penyesalan yang
mendalam Asya mengompres dahi Samuel dan membelainya dengan lembut. Baru di
ketahui ketampanan Samuel dari wajahnya saat dia tidur kata Asya dalam hati.
Dengan senyuman lebar dan harapan Asya agar Samuel cepat bangun maka bangunlah
Samuel dari pingsannya tadi yang berbaring di pangkuan Asya.
“Asya, aku minta maaf
ya udah ngerepotin kamu dengan smua ini.”
“Sstt apa sih El ini
juga salahku berprasangka buruk dulu, dan aku gak mau dengerin kamu dulu.”
“Sebenarnya kamu tahu
gak sih yang ada di buku diary ku dan isi dari kertas yang kesobek itu Sya? Aku
yakin kamu belum tau dan ingin tahu, dan aku kasih tahu kamu ya Sya, Raven itu
cowok yang nkasir banget sama kamu, dia nglakuin segala cara supaya dia dapetin
kamu. Isi dari kertas itu sederhana kok Sya, ini cuma curahan sedikit hatiku
isinya..I Love You Sya dan saat itu juga Feri yang ada di sebelahku nyobek kertas itu dan di rekayasa sama dia.
Dan itulah perasaan ku selama ini ke kamu, maafin aku terlalu telat banget
ngasi tahu ke kamu Sya. Yang jelas itu Sya”
“Iya El makasih kamu
dah mau lindungin aku selama ini, dan baru aku sadarin ternyata selama ini aku
cinta sama kamu El aku gatau kenapa slalu sepi kalau gak ada kamu. Dan ini lah
aku” sambil dekapan yang mempererat mereka.