Rahasia Sepucuk Kertas

Sabtu, 08 November 2014



Kring…! Bel sekolah berbunyi tanda bahwa pelajaran telah berakhir.
“Kamu mau bareng aku pulangnya?”
“Gak ah nanti aja aku pulang sendiri, soalnya masih ada urusan mendadak El, besok aj ya dan jangan lupa nanti telephone aku ya”
“Oke”
Begitulah percakapan Asya anak perempuan tombay IPA 1 di sekolah Altavia dengan Samuel laki-laki yang banyak digemari oleh banyak perempuan di SMA itu. Mereka adalah sepasang sahabat yang memang dari awal mereka ketemu sudah klop dan menjadi akrab. Yap dan saatnya Asya bertemu dengan Prisky anak IPS 5 di kantin karena tadi saat istirahat Prisky memintanya.
“Sya, aku gak tahu ini apaan. Tapi yang jelas aku nemuin ini di perpus dan aku tertarik ngambil karena ada sepotong nama kamu di situ.” Jelas Prisky dengan wajah bingung
“Hehehe kertas kok aneh gini, kamu yakin kalau ini potongan nama aku bukan yang lain? Apa gak ada petunjuk yang lebih konkrit lagi?” Tanya Asya meminta keterangan.
“Hehe memang gak ada sih tapi ya bawa aja lah dan siapa tau ada yang gak beres sama kertas ini, masa di perpus ada sobekan kertas? Kan aneh kalau dipikir-pikir”
“Iya sih, ya udahlah aku bawa aj dan nanti aku tanya-tanya lagi sama orang lain ya , makasih dah perhatian sama aku. Aku duluan ya udah sore kamu juga hati-hati di jalan ya..bye”
“Oke Sya sama-sama makasih juga.”

Sesampainya di rumah Asya menaruh tasnya dan membersihkan diri kemudian makan bersama Mama Papanya. Di benak Asya masih muncul pertanyaan besar yang mengganggu pikirannya.
“Asya, Mama nanti pergi ya setelah makan sama Papa soalnya banyak banget yang harus Mama kerjain di kantor dan harus lembur sampai nanti malam ya”
“Iya ma pa” sambil membereskan piring yang ada
“Tok..tok..tok..tok..” Mama berjalan membukakan pintu ruang tamu.
“Eh El masuk-masuk, sebentar ya duduk dulu Asyanya masih bersihin meja makan.”
“Loh iya Tante gak kenapa-kenapa El juga santai kok Tan”
“Iya El”
Sekilas lah percakapan terjadi antara Mama Asya dengan Samuel yang baru saja datang pada siang itu. Dan saat yang bersamaan Papa dan Mama Asya pergi meninggalkan Asya dengan Samuel karena orangtua Asya juga sudah mempercayai Samuel sebagai kakak Asya.
“Okay by the way kamu ngapin kesini El? Biasanya gak cuma masalah kecil aja kalau sampai ke rumah nih.”
“Iya Sya penting banget, aku butuh kamu buat bantuin aku kerjain PR nih, kamu udah kan pasti karena kamu juara II kemarin hehehe ciee ya ya aku butuh nih Sya.”
“Iya deh mumpung aku lagi baik dan mau tanya-tanya ke kamu juga, kita kerjainnya di sini aja ya soalnya gak ada tempat yang nyaman lagi selain ruang tamu. Oh ya aku ambil buku ku dan keperluan yang mau aku tanyain ke kamu tadi. Sebentar.”
“Iya iya ngomong apa nge reff sih sampai banyak gitu, santai aja ya” Dan beberapa saat kemudian
“El kamu tau ini gak, mungkin kamu pernah liat yang punya kertas gini, karena aku penasaran  nih karena misterius banget masa ini di temuin di perpus kata Prisky tadi.”
“E..E..Aku gatau Sya hmm munhkin ada yang mau kerjain kamu dan waktu pengen ngasih surat ini dia rebutan sama temennya dan sobek deh.” Dengan muka Samuel yang berubah seketika.
“Hmm ya dah deh tapi muka kamu jadi gugup gitu lihat kertas ini..ah perasaan aku aja kali hehe. Gak usah di bahas deh El, okay kita kerjain bersama PRnya.”
Dan merekapun mengerjakannya dengan serius ya walau ada juga saat mereka bercanda dan tertawa karena tipe dan sikap Samuel memang humoris. Tetapi keadaan dan suanapun menjadi berubah setelah..
“Tok tok tok tok” Asya berjalan dan membukakan pintunya.
“Hei Raven gimana kabarnya dah lama gak ketemu sejak kamu ke Jakarta”
“Baik kok Sya , eh El heii gimana kabar kamu bray?”
“Baik-baik kok, oh iya Sya aku pulang dulu ya soalnya Mama SMS aku tadi suruh cepet pulang sore ini ya dan makasih banyak.” Sambil cepat-cepatlah Samuel keluar dari rumah Asya.
“Oke El sama-sama kamu hati-hati di jalan ya”
Begitulah yang terjadi setelah adanya Raven anak SMA Altavia yang pindah ke Jakarta dan di duga pernah bertengkar dengan Samuel karena masalah yang sedikit serius. Dengan senang hati Asya menyambut Raven karena Raven adalah kakak pertama Asya sebelum Samuel mengenal Asya.
“Hei Sya aku mau bilang sama kamu, kamu beneran percaya sama Samuel kamu belum di kasih tau sama Feri kalau Samuel jelek-jelekin kamu di diarynya? Kamu gatau kalau Feri mau bilangin itu ke kamu?”
“Feri? Aku gak pernah ketemu sama Feri tuh. El? Jelek-jelekin aku di diarynya? Aku memang gak pernah di bolehin liat sama dia tapi aku yakin kok dia baik, ngapain dia bohongin aku Ven?”
“Yahh Asya adekku kamu itu masih belum tahu ya cowok jaman sekarang gimana? Kamu di PHPin adanya, kelihatannnya dia sayang sama kamu tapi gak di belakangnya Sya. Aku punya buktinya nih ada di HPku.”
Diberitahukannya lah sebuah gambar bertuliskan “Asya  kamu itu memang gampang ya di bodohin cewek tomboy tapi gak bisa apa-apa dan gak tahu malu, kamu itu pengecut mana ada tomboy masih sering nangis cuma gara-gara masalah kecil doing ahh Asya..Asya kasihannya kamu ini semoga kamu bisa tahu apa yang bakalan terjadi sama kamu.” Asya hanya bisa bengong dan tak percaya akan hal itu. Sebelumnya Samuel tidak pernah sama sekali mengejek dan membuat kata-kata yang seperti itu untuk Asya dan Asya berfikir apa itu yang membuat Samuel gugup dan takut saat melihat potongan kertas itu.
“Sya udah-udah jangan nangis, kan aku dah bilang dari dulu kalau Samuel itu gak baik orangnya selalu pingin menyakiti hati orang, waktu dulu aja aku difitnah sama dia. Sekarang kan kamu sama aku karena itu kamu tenang aja ya, aku bakalan jagain kamu Sya.”
“Aku gatau harus ngomong apa lagi Ven, makasih ya dah mau jadi orang yang special di dalam hidup aku dan sekrang aku sadar kalau El bener-bener jahat dan gak tulus. Aku gak akan mau sama dia lagi, selama ini aku dah dia bohongin!”
“Sstt..Asya kamu tenang ya, aku tahu itu sakit, Kamu istirahat ya sekarang aku harus balik dulu ke rumah Tante karena mau ada acara keluarga nanti jam 7” sambil mengusap pipi Asya
“Iya Ven makasih kamu hati-hati ya di jalan.”
Berakhirlah kegembiraan menjadi beralih kesedihan dan kepedihan di hati Asya karena orang yang dipercayainya menghianati dirinya. Dan Samuel yang sudah sampai di rumahnya
“Aduh bisa mati aku kalau Asya bisa tahu, apalagi ada Raven penghancur itu, ahh kalau Asya tahu pasti dia marah..Feri ohh ya Feri aduh anak buahnya Raven bisa gawat gawat gawat ini ahh. Pasti Asya marah karena aku bilang gitu ke dia Aduh”
Kegelisahan yang menyelimuti hati Samuel membuat dirinya resah dan kawatir dengan segala yang telah dia katakan di kertas itu. Dan telah sedihnya Asya akhirnya dia ingin meninggalkan Samuel. Asyapun juga menulis SMS pada Samuel tentang apa yang ada di isi hatinya. Marah kesal menangis dan sedih melengkapi hatinya. Dengan tuduhan yang sudah di ajukan Raven smuanya sudah tertulis di HP Asya yang akan di kirimkan pada Samuel.
“Loh Asya? Kok gini sih wahh gak bener nih aku harus ke rumah Asya lagi.”
Tanpa menghiraukan hujan yang turun tiba-tiba Samuel menaiki motornya dan melaju. Tak lama kemudian Samuel tiba di halaman rumah Asya dan memang kamar Asya berada di dekat halamnya rumahnya tetapi lantai dua. Dengan harapan yang dimilikinya, Samuel memanggil manggil Asya dan berteriak,
“Asya..Asya! Dengerin aku dulu bukan itu yang aku maksudin Sya”
“Ah ngapain kamu ke sini, mau jelek-jelekin aku lagi? Kamu mau lihat aku lebih nangis daripada ini lagi? Belum cukup dah buat aku menderita? Aku tahu apa isi kertas kamu itu  dah cukup El, kamu dah hancurin aku.”
“Apa yang kamu tulis tadi di SMS itu gak bener Sya aku gak pernah sedikitpun berkata kasar ke kamu aku gak bakalan tega Sya aku juga punya bukti yang lebih actual dari yang di buktiin Raven makanya aku kesini dan aku akan tetap di sini, berdiri di sini sebelum kamu mau nengok aku dari jendela kamu. Aku gak peduli harus mati di sini atau gimana yang jelas aku mau buktiin kalau aku gak pernah bohongin kamu dan aku ngomong selalu benar ke kamu. Dari dulu aku memang udah kenal sama Raven dan banyak banget maslahku sama dia tapi dia yang selalu cari masalah ke aku , dan aku juga selalu jadi sasaran dia. Sekarang kamu harus percaya sama kata-kata orang yang pernah ngejek nama orangtua kamu, kamu gak salah Sya? Kamu benar-benar percaya sama dia?Yakin kamu? Aku dah bilang ap yang harus aku bilang k kamu dan sekali lagi aku gak peduli kalau aku mati di sini cuma karena aku harus jujur ke kamu Sya.”
Asya hanya bisa melamun dan terdiam, kemudian serasa ada yang memberitahu kalau Samuel itu benar. Tak mungkin Samuel yang dikenalnya akan berbohong pada Asya. Akhirnya Asya berubah pikiran dan ingin menengok Samuel di kacanya.
“El aku minta..El!”
Berlarilah Asya setelah melihat El tergeletak tak berdaya di halaman rumah Asya.
“El bangun El plis El aduh badannya panas banget”
Dengan usaha yang cukup kuat Asya bisa memindahkan Samuel ke dalam rumahnya. Dengan penyesalan yang mendalam Asya mengompres dahi Samuel dan membelainya dengan lembut. Baru di ketahui ketampanan Samuel dari wajahnya saat dia tidur kata Asya dalam hati. Dengan senyuman lebar dan harapan Asya agar Samuel cepat bangun maka bangunlah Samuel dari pingsannya tadi yang berbaring di pangkuan Asya.
“Asya, aku minta maaf ya udah ngerepotin kamu dengan smua ini.”
“Sstt apa sih El ini juga salahku berprasangka buruk dulu, dan aku gak mau dengerin kamu dulu.”
“Sebenarnya kamu tahu gak sih yang ada di buku diary ku dan isi dari kertas yang kesobek itu Sya? Aku yakin kamu belum tau dan ingin tahu, dan aku kasih tahu kamu ya Sya, Raven itu cowok yang nkasir banget sama kamu, dia nglakuin segala cara supaya dia dapetin kamu. Isi dari kertas itu sederhana kok Sya, ini cuma curahan sedikit hatiku isinya..I Love You Sya dan saat itu juga Feri yang ada di sebelahku  nyobek kertas itu dan di rekayasa sama dia. Dan itulah perasaan ku selama ini ke kamu, maafin aku terlalu telat banget ngasi tahu ke kamu Sya. Yang jelas itu Sya”
“Iya El makasih kamu dah mau lindungin aku selama ini, dan baru aku sadarin ternyata selama ini aku cinta sama kamu El aku gatau kenapa slalu sepi kalau gak ada kamu. Dan ini lah aku” sambil dekapan yang mempererat mereka.